Langsung ke konten utama

Si merah (cabai) banyak manfaat



Seperti yang kita ketahui, harga cabai sekarang ini sedang meroket. Harga yang mencapai kisaran 40.000/ kg yang semula dari kisaran 23.000/kg. Naiknya harga sungguh drastis bukan, yang dulunya beli 3.000 dapat cabai sekepal tangan, sekarang ini beli dengan harga segitu hanya dapat sejumput. Bahkan, membeli cabai 3000 isi yang didapat bisa dihitung dengan jari. Melonjaknya harga cabai bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor cuaca yang kurang mendukung, hasil panen yang kurang bagus, dan lain sebagainya. Faktor tersebut dapat mengakibatkan harga naik dikarenakan jumlah cabai yang bisa di panen sedikit. Namun Tak jarang masyarakat yang mengetahui harga cabai yang melonjak tetap membeli atau mengkonsumsi barang tersebut. Sebenarnya harga cabai dari petani tidak terlalu tinggi, namun yang menaikkan harga mungkin saja dari pihak pedagang. Jadi petani yang berusaha dan memiliki usaha namun mendapatkan hasil yang sama, namun para penjualah yang mendapatkan untung lebih banyak. Pedagang menaikkan harga tinggi, pasti memiliki alasan yang cukup kuat, mungkin saja hal itu disebabkan karena stok yang didapatkan dari petani terbatas.



Padahal, jika dilihat dari manfaanya, si kecil merah yang memiliki rasa pedas ini  begitu banyak luar biasa, tidak hanya untuk penyedap rasa dalam makanan namun dapat pula digunakan untuk kesehatan tubuh manusia. Sudah pasti si merah pedas ini dapat menambah nafsu makan manusia, kemudian  dapat pula  digunakan untuk menambah imunitas tubuh, dapat melawan infeksi jamur, pilek/flu, meningkatkan pembentukan sel darah merah, serta dapat mempercepat metabolisme tubuh. Maka dari itu, walaupun cabai memiliki bentuk yang tidak terlalu besar, tetapi memiliki banyak manfaat baik untuk kehidupan sehari-hari atau dalam bidang kesehatan manusia.

Dari kacamata orang Indonesia, cabai memiliki nilai yang berharga. Lidah orang Indonesia yang sudah melekat dengan makanan identik pedas. Jika dapat diibaratkan orang Indonesia tak makan pedas, tak nikmat. Pantas saja Indonesia masuk kedalam lima negara yang menyukai rasa pedas. Sebagai bukti, penelitian tersebut dilakukan  para peneliti dari Italia yang hasil riset mereka dipublikasi dalam jurnal American College of Cardiology, yang dikutip dari Solopos.com menyebutkan lima negara tersebut yakni meksiko, india, korea selatan, china dan Indonesia.

Dampak yang sangat terlihat yakni pada petani cabai dan para penjual makanan, seperti penjual bakso, soto, ataupun aneka makanan yang lainnya. Seperti halnya yang dirasakan seorang pedangan soto yang setiap berjualan, membutuhkan cabai yang digunakan sebagai sambal. Jika mengikuti harga cabai yang melonjak, maka mereka tidak dapat untung Bahkan bisa saja mereka merugi. Namun jika tidak mengikuti, yang menjadi taruhan para pelanggan atau pembelinya. Dimana pembeli soto kalau tidak disediakan sambal, terkadang memilih tidak jadi mampir, atau selera makannya berkurang. Sedangkan dampak yang dirasakan petani cabai berupa menurunnya hasil panen yang diperoleh. 

Dengan adanya hal tersebut biasanya para penjual makanan sebenarnya dapat mensiasati dengan mencampur sambal dengan air, agar cabai yang digunakan tidak terlalu banyak. Namun ada juga yang memilih mempertahankan kualitas makanan yang dijual, walaupun harus menelan rugi. Seperti yang dilakukan oleh siti sang (penjual warteg), dia mengakui untuk mengatasi dampak melonjaknya harga cabai yakni dengan mengurangi penggunaan cabai disetiap makanannya. Sedangkan untuk membuat sambal di warungnya, dia memilih mencampur dengan tomat. Agar jumlah cabai yang digunakan bisa berkurang dan meminimalisir penggunaan cabai. Walaupun banyak pelanggan yang komplain mengenai makanan yang jual tidak seperti biasa, namun siti tetap menggunakan strategi tersebut. Harapan dari para pengguna cabai, semoga di Masa Pandemi ini harga cabai cepat kembali normal agar dapat seperti semula lagi. Pemerintah yang menangani mengenai pasar, segera dapat mengatasi dengan menelan harga cabai ataupun dengan cara yang lainnya. 


Komentar